Redaktur: Redaksi
Ilustrasi
Afiliasi.net - Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Rabu pagi (11/2/2026) dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat, menandai pembalikan arah setelah sebelumnya sempat berada di bawah tekanan. Pergerakan positif mata uang Garuda ini dipengaruhi oleh kondisi dolar AS yang melemah menyusul rilis data penjualan ritel Amerika yang tercatat lebih rendah dari ekspektasi pasar.
Dilansir pada laman suaracom (11/2/2026), Pelemahan data ekonomi tersebut membuat pelaku pasar menilai tekanan inflasi dan konsumsi di AS mulai melandai, sehingga mengurangi dorongan penguatan dolar dalam jangka pendek. Meski demikian, laju penguatan rupiah masih tertahan karena sejumlah pejabat Federal Reserve memberikan sinyal kebijakan moneter yang tetap ketat atau hawkish, yang berpotensi menahan pelemahan dolar lebih dalam.
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang pada pagi hari ini cenderung variatif dengan kecenderungan menguat. Yen Jepang mencatatkan kinerja terbaik di antara mata uang regional setelah naik sekitar 0,27 persen terhadap dolar AS, didorong sentimen pasar yang mencari aset safe haven di tengah ketidakpastian data ekonomi global.
Sebaliknya, ringgit Malaysia tercatat menjadi mata uang dengan pelemahan paling dalam di Asia setelah turun sekitar 0,07 persen terhadap dolar AS. Sementara itu, yuan China juga bergerak di zona negatif dengan pelemahan tipis sekitar 0,04 persen terhadap greenback pada perdagangan pagi.
Pelaku pasar kini masih mencermati perkembangan data ekonomi global berikutnya serta arah kebijakan bank sentral utama dunia yang diperkirakan akan terus menjadi faktor penentu pergerakan mata uang, termasuk rupiah, dalam waktu dekat.(*)
TOPIK BERITA TERKAIT:
#rupiah-menguat #ekonomi #moneter #pasar-modal #ekonomi-dan-bisnis